Jumat, 31 Desember 2021

TIDAK ADA PUISI

TIDAK ADA PUISI

Tidak ada puisi di wajah tahun baru
Tidak ada sajak atau pun aksara cinta di ujung luka Desember
Semua sudah selesai dengan kata maaf
dan kata selamat tinggal.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

Rabu, 29 Desember 2021

YOGYA MEMANG ROMANTIS

YOGYA MEMANG ROMANTIS

Saat ini hanya waktu yang tersenyum 
dan matahari memeluk alam dengan Asa 
Besok pagi dan besok lusa hanya dinding kamar yang basah dengan keringat sepertiga malam.
Sayang.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

Sabtu, 25 Desember 2021

WAJAH REMBULAN

Wajah Rembulan 

Di malam yang sunyi ini: 
'Ku Lukis wajahmu rembulan
dengan cat warna pelangi 'ku,
'Ku peluk dengan setumpuk kenangan 
yang berbaring di pintu-pintu kamar.
Wahai kekasih hati,
Izinkanlah aku memeluk Sepotong senyummu.
Rindu.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

Selasa, 21 Desember 2021

Minggu, 19 Desember 2021

SELAMAT DATANG OMICRON SELAMAT TINGGAL CORONA

SELAMAT DATANG OMICRON 
SELAMAT TINGGAL CORONA 

Awal yang baik untuk negeri dongeng 
awal tahun yang bergemuruh untuk
penguasa hutan rimba-rimba.

Corona sudah tiada 
Omicron tertawa-tawa.

Kancil-kancil cerdik 
membuat teka-teki cinta 
membuat buaya tak bersua 
tak ada daging di malam pertama.

Polesan make up yang digunakan 
di pintu-pintu netizen di pegang 
oleh mak Lampir dan di kawal oleh Grandong
tertwa sambil menggiring-giring blogger masa.

Hhhhhhhh

Masyarakat bertanya
ada apa dengan filem Indonesia
sehingga kancil duduk di 
Tahta: singgasana Raja.

Selamat datang Omicron,
selama tinggal Corona,
Salam mahasiswa 
sampai ketemu di 
lubang tahun berikutnya.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

Jumat, 17 Desember 2021

YUKA

YUKA 

Prosa dan Puisi saling sapa
Drama: Qais Laila menanti pintu-pintu langit yang berlayar bersama angan 
Duka
Matahari yang di giring-giring tenggelam tersenyum sepotong tanya pada Tuhan 
akan rindunya wajah rembulan
Yuka aksara jiwa menebar perasa
Doa.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021

Share:

Sabtu, 11 Desember 2021

TRAGEDI 1818

TRAGEDI 1818

Lahar dingin 
meremas-remas malam
memeluk debu luka dalam dada.

Bintang-bintang 
memandang wajah Tuhan,
gunung-gunung tersenyum duka,
mendahak sepotong tanya,
disudut-sudut pelosok desa.

Angin begitu pintar merayu kayu sapu,
malaikat sang penghelus dada 
menggiring-giring rindu.

Langit terkesipu malu, 
bisu tak bersua dengan kursi jabatan 
kekasih lalu.

Fajarpun terbit, matahari terbit,
memeluk erat tubuh dunia
bersama pintu-pintu duka 
Asmara.

Selembar sayap nyamuk 
pulang petang,
bersimpuh di hadapan 
Tuhan.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

EPISODE MAGELANG

EPISODE MAGELANG

Angin malam
mengelus dada nyai Rati 
gerimis yang begitu asik 
melempar senyum 
dalam sanubari 'ku
Rindu.

Alun-alun Magelang
terkesipu malu 
mengecup bibir 'ku lalu

Kakimu-kakiku
Bisu.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021



Share:

Jumat, 10 Desember 2021

KARDUS

KARDUS

Air mata masyarakat
di pasung dengan duka 
menimang harapan dalam doa-doa,
sanak saudara.

Kalam kudus bersua di pintu-pintu langit 
kening hati berbisik-bisik di kaki bumi
semua tak abadi.

Mahasiswa-mahasiswi padu 
kasih antar sesama
Nun jiwa nun Sastra semua 
di timang dengan cinta, bukan 
sepotong tanya.

Negeri sapu.
Memanusiakan 
manusia.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

Kamis, 09 Desember 2021

PENANTIAN

PENANTIAN

Di bawah rembulan ini 
aku bartanya.
Hal apa yang 
di pasung dalam dada.

Aku berdiri ditelapak kaki bumi 
yang setia menemani
tapi kau tuli dengan 
bahasa puisi.

Aku berdiskusi dengan alam tentang rindu 
tapi alam membisu.

Lantas pantaskah aku menegosiasi 
dengan tenggelam matahari,
sedangkan malam sudah datang 
lalu pergi

Atau aku harus diam 
dengan penantian rindu
yang di pasung dengan 
senyum manismu,
atau aku harus berlayar dengan
pintu-pintu duka dalam sanubari 'ku?

_N. Adam
Yogyakarta, 2021

Share:

Rabu, 08 Desember 2021

PUISI UNTUK LAURA

PUISI UNTUK LAURA 

Sepotong tanya
di malam gelap gulita,
keadilan berfatwa 
Asa.

Mentalisme bernari-nari,
otak kanan otak kiri 
berlayar di pintu-pintu mimpi.

Toxic: racun kehidupan
memanggil-manggil kata sayang,
manis,
menimang ketidak warasan.

Rangkulan kata,
menimang luka, bersandar pada 
Raja-raja 
tameng tahta.

Cukup Tuhan
Memeluk mata.
Duka.

_N. Adam
Jakarta, 2021

Share:

DARAH MUDA

DARAH MUDA

Mata lara indoneia
mati tampa rasa, generasi muda
bernari-nari di depan kaca-kaca,
memutar-mutar jari-jemarinya,
mati suri otaknya.

Di sudut-sudut warkop
tak lagi membicarakan ejaan
Sansekerta,
semua buta dengan cinta,
semua gila dengan manisnya dunia.

Sumpah pemuda,
darah muda,
tak lagi nyata.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021

Share:

RUMAH IDEOLOGI

RUMAH IDEOLOGI

Madu-madu ria
Raja tanpa mahkota,
jantung kota di remas-remas dalam dada.

Air mata masyarakat di timang dengan sebotol luka,
dipeluk dengan asa,
tak merdeka.

Budaya politik bermuka cantik
dipoles dengan lipstik.
Rumah ideologi sebagai santri
melawan kolonel-kolonil bejad maunya sendiri.

Pemerkosaan agama 
makin hari makin jadi-jadi
Agama, buday, kota 
diikat dengan sehelai rambut bunga desa,
tempat-tempat ibadah digentayagi bayangan negara
ada apa dengan abu Joda,
Ini negeri makan Asa.

Agama di jadikan boneka badut
dijadikan istri selingkuhan,
dijadikan pelampiasan hawa nafsu belaka.
Apalah arti penghargaan
jika pahlawan dilupakan.

Wahai Rimba-rimaba, kemana sajak-sajak 
Tuhan yang kau sampaikan?
kemana puisi-puisi yang berbunyi nyai rati?
ini negeri mati suri.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

TAMAN KECIL INDONESIA

TAMAN KECIL INDONESIA

Gedung-gedung menggeliat di dada,
sajak-sajak tersenyum pada rimba-rimba,
memeluk kening hatinya
Bola mata ria.

Menjalani syair-syair cinta
Pelipur-lara tak merdeka
setumpuk kenangan
taman kecil Indonesia
membisikan sepotong hati pada
Bunga Desa.

Kacamata-mata politik
menjadi boneka badut,
tersenyum sinis pada Ibunya sendiri.

Taman kecil:
saksi bisu seni Indonesia
menimang kewajiban
Memanusiakan manusia.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

CEMBURU

CEMBURU

Kedipan di hari itu datang 
kembali 
Di alam mimpi. Kamu melempar 
Senyum
Menggigil tubuh lalu

Meja bangku, menggeliat 
Di bahumu,
Sebanyak mata nakal menggoda
Pesonamu.

Cemburu berbisik-bisik
Hati terusik
'kututup mata kekasihKU yang 
Menarik. 

_N. Adam
Secangkir Jawa, 2021
Share:

OBAT KUAT

OBAT KUAT

Mahasiswa-mahasiswi,
menseret-menseret obat kuat,
membawa sekertas surat, 
berisi nama, 
aksi.

Bangku-bangku 
kuliah 
berderet-jerit
Kesakitan,
yang kaya makin kaya,
yang miskin makin miskin.

Jarum-jeram tempat 
perjalanan kaki menuju 
pelupuk mata desa 
yang sekarat. 

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

KADO UNTUK TUHAN

KADO UNTUK TUHAN

Hari mulai menua,
rasa angan ingin
bersama senja,
wahai kekasih jiwa,
redup mata membuka
jendela.

Waktu di ujung masa,
`Ku jadikan anak-anak angsa
bersama lampu cahaya.

Aku ingin bintang-bintang
melengkapi cahaya bulan,
aku ingin menghadap Tuhan
dengan senyum manis,
sebelum matahari di
giring-girinng tenggelam.

Sajak-sajak indah sebagai
Fiksi persembahan,
sebagai jiwa-jiwa keimanan,
dan sebagai kado untuk Tuhan.

Hari esok akan tua,
hari esok akan bertemu kita,
hanya liang kenangan harapan doa.

_N. Adam 
Yogyakarta, 2021

Share:

LUKA

LUKA

Jari-jemari 
angin lalu meraba 
jendela rindu. Lilin-lilin
pertikaian menabur percik-percik 

kaca.
Mata angsa redup. 
Bulu mata bergelantungan, sayup.

Ingin 
'ku genggam 
bola matahari 
di matamu. Ingin 'ku sisir 
mayapada, melawan gelombang dalam dada, berlayar bersama rembulan di pintu-pintu duka.

Aku 
tak pandai 
merayu, seperti bunga 
yang layu di musim pilu. 
Apalah arti hidupku kini, bunga desaku. 

Jika luka sudah 
sobek. Berdarah-darah. 
Luka-luka. Tamatlah. Sudah.

_N. Adam 
Yogyakarta, 2021
Share:

CINTA DAN AGAMA

CINTA DAN AGAMA

Seorang pujangga
memeluk malam dengan 
hati pelipur-lara.

Buku-buku lembaran baru 
dengan lugu matamu, 
Dan
di malam minggu 
mengetuk-ngetuk pagi lalu,
membisu dengan hati kelise 
tak menentu.

Oh Malam..
Apalah semua arti cinta 
kalau sudah tak bernyawa, 
apalah kata sepotong hati
kalau semua menjadi luka.

Cinta dan agama 
saling ikrar suci,
saling mengecup kening hati,
melengkapi bukan dicuci. 

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

TAWANAN CINTA

TAWANAN CINTA 

'Ku hanya seorang pujangga
yang memeluk Doa-doa.

Bintang-gemintang 
menggeliat dalam dada
Menanti pintu langit
mengetuk-ngetuk perasa.

Berkelana mencari keadilan 
dalam diri
membebaskan tawanan 
cinta suci.

Oh nyai Rati 
kakimu-kakiku
berdansa-dansa sebelum 
fajar terbit,
sebelum matahari berisinar di 
alam semesta ini,
Sebelum rembulan meghiasi 
langit dan bumi.

Ibu jari nyai Rati menitipkan 
seberkas puisi 
yang berjudul 
Mimpi.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021


Share:

BONEKA BADUT

BONEKA BADUT

Fiksi-fiksi tergeletakan
di tikar-tikar,
Sajak-sajak indah
Di obral di pasar-pasar.

Seruan orasi
memantul-mantul di jalan-jalan,
mencari topeng-topeng 
kepentingan.

Kau sebut sepotong malam 
pada Raja,
kau sebut sepotong haati pada 
bunga Desa,
semua di bela dengan tangan Dewa.

Dasi-dasi berbaris-baris,
anak kecil mengemis-ngemis,
boneka badut tersenyum sinis.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021

Share:

OPEN DO

OPEN DO

Gedung-gedung biru 
mengaong-ngaong di link bisu,
Open DO 
di perkosa di ruang 
tamu-tamu.

Mahasiswa-mahasiswi
maunya diperbudak dirinya sendiri,
ngakunya sudah jadi tuan putri 
tapi nyantanya open diri.

Hi...
Petinggi-petinggi
kemana suara-suara 
yang kau pantul-pantulkan 
didinding kaca,
kemana muka cantiikmu 
yang di poles dengan lipstik
yang katanya humanistik.

Kelise-kelise semkin hari 
semakin jadi-jadi, 
tak manusiawi,
Intelektual dioperasi.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share: