Jari-jemari
angin lalu meraba
jendela rindu. Lilin-lilin
pertikaian menabur percik-percik
kaca.
Mata angsa redup.
Bulu mata bergelantungan, sayup.
Ingin
'ku genggam
bola matahari
di matamu. Ingin 'ku sisir
mayapada, melawan gelombang dalam dada, berlayar bersama rembulan di pintu-pintu duka.
Aku
tak pandai
merayu, seperti bunga
yang layu di musim pilu.
Apalah arti hidupku kini, bunga desaku.
Jika luka sudah
sobek. Berdarah-darah.
Luka-luka. Tamatlah. Sudah.
_N. Adam
Yogyakarta, 2021
0 komentar:
Posting Komentar