Sabtu, 11 Desember 2021

TRAGEDI 1818

TRAGEDI 1818

Lahar dingin 
meremas-remas malam
memeluk debu luka dalam dada.

Bintang-bintang 
memandang wajah Tuhan,
gunung-gunung tersenyum duka,
mendahak sepotong tanya,
disudut-sudut pelosok desa.

Angin begitu pintar merayu kayu sapu,
malaikat sang penghelus dada 
menggiring-giring rindu.

Langit terkesipu malu, 
bisu tak bersua dengan kursi jabatan 
kekasih lalu.

Fajarpun terbit, matahari terbit,
memeluk erat tubuh dunia
bersama pintu-pintu duka 
Asmara.

Selembar sayap nyamuk 
pulang petang,
bersimpuh di hadapan 
Tuhan.

_N. Adam
Yogyakarta, 2021
Share:

0 komentar:

Posting Komentar