Lahar dingin
meremas-remas malam
memeluk debu luka dalam dada.
Bintang-bintang
memandang wajah Tuhan,
gunung-gunung tersenyum duka,
mendahak sepotong tanya,
disudut-sudut pelosok desa.
Angin begitu pintar merayu kayu sapu,
malaikat sang penghelus dada
menggiring-giring rindu.
Langit terkesipu malu,
bisu tak bersua dengan kursi jabatan
kekasih lalu.
Fajarpun terbit, matahari terbit,
memeluk erat tubuh dunia
bersama pintu-pintu duka
Asmara.
Selembar sayap nyamuk
pulang petang,
bersimpuh di hadapan
Tuhan.
_N. Adam
Yogyakarta, 2021
0 komentar:
Posting Komentar