Di bawah rembulan ini
aku bartanya.
Hal apa yang
di pasung dalam dada.
Aku berdiri ditelapak kaki bumi
yang setia menemani
tapi kau tuli dengan
bahasa puisi.
Aku berdiskusi dengan alam tentang rindu
tapi alam membisu.
Lantas pantaskah aku menegosiasi
dengan tenggelam matahari,
sedangkan malam sudah datang
lalu pergi
Atau aku harus diam
dengan penantian rindu
yang di pasung dengan
senyum manismu,
atau aku harus berlayar dengan
pintu-pintu duka dalam sanubari 'ku?
_N. Adam
Yogyakarta, 2021
0 komentar:
Posting Komentar